Events Calendar

Research Presentations
Our Jakarta office will host seminars, symposia, conferences, and research presentations for visiting U.S. researchers and Indonesian academics alike on the topic of “Contemporary Indonesian Studies,” broadly defined.

 

Five Previous Events:

  • PELATIHAN RISET KAJIAN INDONESIA “PERENCANAAN RISET INTERDISIPLINER DAN MULTIDISIPLINER DALAM BIDANG KAJIAN INDONESIA” - ,

    Sumber daya manusia bidang pendidikan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) pada tujuh departemen yang ada, telah aktif mengadakan tridarma perguruan tinggi, termasuk riset. Pelaksanaan riset monodisiplin di bidang kajian Indonesia telah banyak dilakukan para pengajar FIB UI dalam bidang masing-masing (arkeologi, filsafat, sejarah, susastra, linguistik, perpustakaan dan informasi, serta kewilayahan). Di pihak lain, riset interdisipliner dan multidispliner di bidang kajian Indonesia masih perlu dikembangkan di FIB UI. Tuntutan pengembangan riset interdisipliner dan multidisipliner di bidang kajian Indonesia yang hasilnya menjadi landasan pemberian masukan bagi kalangan pemerintah, swasta, dan masyarakat, perlu ditanggapi dan dilaksanakan.
    Riset interdisipliner dan multidisipliner memerlukan perencanaan yang tidak mudah, mulai dari merumuskan masalah yang berkenaan dengan lebih dari satu bidang, menghimpun tenaga riset lintas bidang, menyusun proposal, dan melaksanakan riset itu sendiri. Diperlukan pula informasi tentang hibah-hibah riset interdisipliner dan multidisipliner sehingga para calon peneliti dapat mengajukan proposal pada hibah yang tepat. Oleh karena itu, Pelatihan Riset Kajian Indonesia bertemakan “Perencanaan Riset Interdisipliner dan Multidisipliner dalam Bidang Kajian Indonesia” dipandang perlu untuk dilakukan bagi sivitas akademika FIB UI.

    Map to di Auditorium Gedung 1 Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Univ
  • INDONESIA – UNITED STATES RELATIONS: OPPORTUNITIES AND CHALLENGES UNDER JOKOWI ADMINISTRATION - October 14, 2014,

    Indonesia – United States relations are bilateral relations between Indonesia and the United States. Relations between the two nations are generally strong and close. Since President Obamas inauguration, Washington and Jakarta have been negotiating a Comprehensive Partnership Agreement (CPA) that signals a new era of bilateral cooperation. As a result, CPA has been signed by Presidents Obama and Yudhoyono as a long-term commitment by Presidents Obama and Yudhoyono to broaden, deepen and elevate bilateral relations between the United States and Indonesia. It recognizes the global significance of enhanced cooperation between the world’s second and third largest democracies, the tremendous possibilities for economic and development cooperation, and the importance of fostering exchanges and mutual understanding between two of the world’s most diverse nations.
    There are some significant progress since work began on the Partnership in mid-2009. Together two governments launched a Peace Corps program that will promote understanding between the Indonesian and American people. The two governments signed agreements for Science and Technology Cooperation and the Overseas Private Investment Corporation, which will underpin deepened engagement by two countries in two of the most dynamic sectors of relationship. The U.S. Department of Defense and the Indonesian Ministry of Defense signed a Framework Arrangement on Cooperative Activities in the Field of Defense that will enhance the quality of security cooperation. Additionally, the two Presidents also agreed to initiate major initiatives advancing Higher Education and confronting Climate Change.
    Besides some significant progress, there are several challenges that could prevent the relationship from realizing its full potential after the CPA is signed. Washington’s attention to Southeast Asia and Indonesia has been inconsistent in past years and sustaining focus will be a continuing challenge. Jakarta will need to overcome long-standing suspicions of foreign engagement, as well as several internal structural problems, to be an effective regional power and meaningful partner of the United States.
    After the Constitutional Court upholds the Indonesian Election Commission's (KPU) Decision declaring Jokowi as the next president, it is important for scholars and students to learn how Jokowi Administration will develop Indonesia – Unites States Relations. This learning will give better understanding on how to increase stronger and closer relations between Indonesia and United States in the future.

    AIFIS in cooperation with Lembaga Penelitian, Publikasi dan Pengabdian Masyarakat (LP3M), and Department of International Relations, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) will conduct the public lecture on:
    Date : Tuesday, 14 October 2014
    Time : 09.00 – 11.30 WIB
    Venue : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY)
    Jl. Lingkar Selatan, Bantul, Yogyakarta

    Speakers:

    1. Dr. Nur Azizah (The Chair of Department of International Relations, UMY)
    2. Mr. Mark Clark (Political Counselor, Embassy of The United States)
    Moderator: Ali Muhammad, Ph.D. (Researcher of LP3M UMY)

    Map to Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY)
  • Dari NTT, Banyuwangi sampai ke Amerika: Tentang Kebahagiaan Orang Atoni Pah Meto, Orang Oseng dan Orang Amerika - October 14, 2014,

    Saat ini entitas komunitas-etnik telah tersebar di berbagai daerah di Indonesia dengan migrasi yang mereka lakukan. Persebaran inilah yang berpengaruh pada konsep kebahagiaan pada masing-masing komunitas-etnik karena adanya asimilasi dan akulturasi budaya yang diperoleh di perantauan bagi pendatang dan dibawa pulang ke kampung halaman. Perubahan pada konsep sejahtera, sukses hingga kebahagiaan ini sangat menarik untuk dikaji. Selain itu, adanya dan mulai dibumikannya Gross National Happiness (GNH), yang diinspirasi oleh Bhutan, di Indonesia sebagai counter terhadap Gross National Product (GNP) yang dianggap terlalu berfokus pada perspektif economic minded. Kebahagiaan yang diindekskan memposisikan Indonesia sebagai Negara rangking ke 14 dengan indeks kebahagiaannya setelah 13 negara lainnya.
    Kebahagiaan dalam perspektif suku-bangsa atau komunitas-etnik ini diangkat sebagai upaya secara akademik untuk merespon realitas sosial yang terjadi di Indonesia. Pertanyaan menarik untuk dikaji terkait dengan kebahagiaan dalam perspektif komunitas-etnik di Indonesia, diantaranya, yaitu: pertama, bagaimana konsep bahagia menurut komunitas-etnik di Indonesia? Kedua, apa ukuran kebahagiaan tersebut dan bagaimana korelasinya dengan kesejahteraan ekonomi? Ketiga, nilai apa sajakah yang mengkonstruksi kebahagiaan tersebut dan dimana posisi nilai keagamaan dalam hal tersebut? Keempat, bagaimana kontribusi epistemologi kebahagiaan ini terhadap terciptanya perdamaian di masing-masing komunitas-etnik khususnya dan Indonesia pada umumnya?

    Nara Sumber :

    1. Asma Luthfie, M.Hum (Universitas Negeri Semarang) “Orang Atoni Pah Meto di Mollo Utara, Nusa Tenggara Timur”
    2. Dadang Aji Permana (Universitas Bakti Indonesia Banyuwangi) “Orang Oseng di Aliyan dan Alas Malang, Banyuwangi, Jawa Timur”
    3. Rr. Siti Kurnia Widyastuti, M.A. (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta) “Pro-Kontra antara Tradisi dan Agama dalam Perayaan Halloween”

    Waktu dan Tempat :

    Diskusi ini akan dilaksanakan pada:
    Hari : Selasa, 14 Oktober 2014
    Waktu : 10.30 – 13.30 WIB
    Pla Tempat : Smart Room Lt. 2
    Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Map to Smart Room Lt. 2
  • Diskusi Serial Tokoh Pluralis Indonesia #2 “Pendidikan Indonesia: Pluralis atau Multikulturalis? Belajar dari Romo Mangunwijaya” - October 17, 2014,

    Dengan memperhatikan latar belakang masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai suku, budaya, agama, tingkat pendidikan maupun ekonomi, muncul sebuah pertanyaan, model pendidikan seperti apakah yang cocok untuk masyarakat Indonesia: Yang pluralis, multikulturalis, atau kedua-duanya? Untuk menanggapi pertanyaan tersebut, diskusi ini akan bersama-sama mengkaji model pendidikan Indonesia menurut Romo Mangunwijaya, seorang tokoh pendidikan sekaligus arsitek dan budayawan dari Indonesia. Kajian atas model pendidikan Romo Mangun ini akan dipetakan dalam kerangka langkah-langkah pengembangan kurikulum yang meliputi analisis kebutuhan, penentuan tujuan Pembelajaran, pemilihan materi Pembelajaran, pengorganisasian materi Pembelajaran, implementasi Pembelajaran, dan evaluasi Pembelajaran.

    Narasumber :

    Eny Winarti, Ph.D. adalah alumnus Ohio University. Kini menjadi dosen pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

    Waktu dan Tempat :

    Diskusi Serial Tokoh Pluralis Indonesia #2 ini akan dilaksanakan pada:
    Hari : Jumat, 17 Oktober 2014
    Waktu : 13.30 – 15.30 WIB
    Pla Tempat : Tekno Klas, Lantai 1, Fakultas Syariah dan Hukum,
    UIN Sunan Kalijaga

    Map to Tekno Klas, Lantai 1
  • “Youth and Post 2015: Developing Indonesia’s Best Path for Sustainable Acceleration” - October 18, 2014,

    Tentang NFEC
    NFEC adalah salah satu konferensi yang diselenggarakan oleh Youth Educators Sharing Networks (Youth ESN) sebagai sebuah wadah untuk pemuda yang peduli dan memiliki hati dalam pembangunan Indonesia melalui bidang pendidikan. Ini adalah tempat pemuda untuk berkumpul, berbagi, saling menginspirasi, bersinergi satu sama lain serta membentuk jaringan untuk perubahan positif, bangsa yang lebih baik.
    NFEC 2014 merupakan konferensi tahun ketiga, setelah sukses dengan NFEC 2012 “Reshaping the Nation’s Future through Education” dan NFEC 2013 dengan tema “Education to Employment: What Would (Youth) Educators Do?”. Konferensi tersebut mendapat hasil yang luar biasa dengan mengundang 100-150 pemuda di seluruh Indonesia yang peduli pada pendidikan Indonesia, sekaligus menjadi pionir lahirnya Youth ESN.
    NFEC 2014 akan diadakan dengan fokus pada topik Post 2015 selama dua hari semalam, berlokasi di Jakarta. Topik ini dipilih karena dilatar belakangi oleh Milenium Development Goals (MDGs) yg telah disepakati 189 negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) akan segera habis masanya pada tahun 2015. Padahal masih ada beberapa target yang belum tercapai oleh bangsa Indonesia. Menyongsong target-target baru yang dikenal dengan Post-2015 di tahun mendatang, sudah selayaknya pemuda bekerjasama dengan Pemerintah untuk mengakselerasi pembangunan bangsa ini, khususnya dibidang Pendidikan. Melalui pendidikan yang adil dan berkualitas, bangsa Indonesia akan mampu mengejar ketertinggalannya serta menyongsong target-target baru dalam Post-2015.
    Tentang Youth Educators Sharing Networks
    Youth Educators Sharing Networks (Youth ESN) berdiri pada tahun 2012. Youth ESN adalah jaringan pemuda yang ingin membuat sebuah perubahan untuk keadaan pendidikan Indonesia yang lebih baik. Youth ESN mengajak pemuda untuk tidak hanya mengandalkan guru maupun pemerintah, namun juga ikut berkontribusi secara aktif dan memegang peranan dalam proses perkembangan pendidikan Indonesia. Youth ESN bersama-sama dengan patner Youth ESN menciptakan beberapa program di beberapa daerah untuk meningkatkan pendidikan disana; menginspirasi jaringan yang lebih luas untuk ikut serta menjadi bagian dari pendidik dengan berbagai latar belakang yang berbeda.
    Youth ESN percaya siapapun orangnya, khususnya pemuda bisa menjadi pendidik, karena pendidik bukan hanya guru, namun juga mereka yang memiliki kesadaran dan semangat tinggi untuk berbagi.
    Detail Acara
    Sesi ini akan dilaksanakan dengan detail sebagai berikut.
    Hari/tanggal : Sabtu, 18 Oktober 2014
    Waktu : 10.00 – 12.00 WIB
    Tempat : Auditorium Univ. Siswa Bangsa Internasional
    Mulia Business Park Building B1
    Jl. Letjen MT Haryono Kav. 58-60
    Jakarta Selatan 12780
    Peserta : 150 pemuda
    Materi
    Materi yang diharapkan bisa disampaikan pada Youth and Post 2015: Developing Indonesia’s Best Path for Suistainable Acceleration adalah seputar Post-2015 yang telah disepakati Pemerintah Indonesia dengan PBB. Materi tersebut meilputi latar belakang terbentuknya kesepakatan, tujuan kesepakatan, aspek-aspek yang disepakati, serta pentingnya kesepakatan tersebut untuk bangsa Indonesia.

    Pembicara
    1. Amich Alhumami, Ph.D (Perencana Bidang Pendidikan Direktorat Pendidikan, Bappenas)
    2. Bestha Inatsan Ashila (Koordinator Divisi Pendidikan Aliansi Remaja Independen)

    Objektif
    NFEC 2014 sangat berharap jika seminar ini bisa memberi beberapa dampak seperti berikut:
    1. Memahami latar belakang, tujuan, serta target-target yang ada dalam Post-2015 khususnya dengan bangsa Indonesia.
    2. Meningkatkan semangat kontribusi peserta dalam Post-2015 untuk akselerasi pembangunan terbaik bangsa Indonesia.
    3. Menginspirasi pemuda untuk berbagi ilmu dan menginspirasi pemuda lain dalam mengejar ketertinggalan bangsa Indonesia.
    4. Meningkatkan kesadaran bahwa setiap orang dapat ikut ambil bagian dalam pembangunan bangsa, khususnya dalam bidang pendidikan.

     

    Map to Auditorium USBI-Mulia Business Park

Five Upcoming Events:

  • Serial Discussion on Religious Heritage #1 Konsep “Saged” dalam Arsitektur Kota: Understanding Cultural and Religious Heritage in Indonesia - January 27, 2015,

    Latar Belakang

    Tak bisa dipungkiri bahwa heritage telah menjadi wacana publik yang menguat seiring pertumbuhan ekonomi dan pariwisata di negeri ini. Meskipun demikian, dinamikanya ternyata masih berkutat pada praksis linear dari konservasi, pengembangan dan pemberdayaan. Dan selama ini agenda dan programnya masih digarap secara sentralistik dari pemerintah ke masyarakat. Bahkan masih banyak bangunan heritage, termasuk bangunan peribadatan, yang belum mendapat perhatian dari pemerintah. Meskipun pemerintah Indonesia telah meratifikasi konvensi internasional (UNESCO) perlindungan warisan budaya dunia pada tahun 1989 dan memasukkan beberapa bangunan peribadatan bersejarah sebagai cagar budaya dunia, namun sayangnya perhatian pemerintah hingga saat ini masih tertuju pada konservasi fisik semata. Walaupun kemudian pada tahun 2007 pemerintah juga meratifikasi konvensi internasional perlindungan budaya nirwujud, pemerintah pun belum menyentuh pada aspek tradisi keagamaan yang tumbuh bersama bangunannya tersebut.

    Di samping itu, pemerintah pun masih mengedepankan perhatiannya pada warisan agama-agama besar transnasional dan pengaruhnya daripada warisan agama lokal beserta perkembangannya. Padahal menurut Tyas-Susanti (2013), partisipasi komunitas lokal keagamaan merupakan sebuah kunci penting dari suksesnya perlindungan warisan hidup tradisi keagamaan tersebut. Akan tetapi, masih saja terjadi beberapa peristiwa yang menyedihkan seperti terbakarnya beberapa klenteng berusia ratusan tahun di Banyuwangi dan Magelang tahun 2014.

    Jika ditilik lebih dalam, wacana atau program heritage merupakan sebuah proses yang sangat dinamis mulai dari konseptual hingga praksis. Misalnya pembedaan antara cultural heritage dengan religious heritage, gap antara pendekatan barat dan timur, autentisitas, penentuan dan pemilihan obyek heritage, atau national heritage versus world heritage. Oleh karena itu, sebagai komunitas akademik yang fokus pada persoalan sosial keagamaan di tingkat lokal, LABeL bekerjasama dengan AIFIS bermaksud untuk terlibat lebih jauh dalam persoalan di atas dengan mengangkat Religious Heritage di Indonesia menjadi tema utama Diskusi Rutin sepanjang tahun 2015.

    PEMBICARA

    1. Djoko Wijono, M. Arch. (Alumni University of Wisconsin)
    2. Ustadi Hamsah, M. Ag. (Peneliti Pemikiran Islam)

    WAKTU DAN TEMPAT

    Diskusi Serial #1 ini akan dilaksanakan pada:

    Hari                 : Selasa, 27 Januari 2015

    Waktu             : 09.00 – 12.30 WIB

    Pla                   Tempat            : Smart Room Lt. 2

    Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    INFORMASI LANJUT

    Faishol Adib

    Email: faisholadib@gmail.com  Mobile: 0815 799 2089

    AIFIS Yogyakarta Office

    Pusat Studi Sosial Asia Tenggara (PSSAT), Gedung PAU UGM Sayap Timur Lantai 1

    Jl. Teknika Utara, Barek, Yogyakarta 55281

    Map to Smart Room Lt. 2
Bookmark and Share