Events Calendar

Research Presentations
Our Jakarta office will host seminars, symposia, conferences, and research presentations for visiting U.S. researchers and Indonesian academics alike on the topic of “Contemporary Indonesian Studies,” broadly defined.

Month Week Day
July 2014
Mon Tues Wed Thur Fri Sat Sun
30 1 2

Category: IndonesiaPublic Discussion "Islam in America"

Close

July 2, 2014 9:00 pm

3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31 1 2 3

Category Key

  • Indonesia
  • USA

 

Five Previous Events:

  • Photography Discussion with Garrett O. Hansen “Men You Might Know” - July 7, 2014,

    Background
    The connections between colonialism, the image, and the archive are complex and fraught. On the one hand, the images that arose during the colonial period often represent the few photographic records that exist of many non-European cultures. On the other, such images were often used to further exotify, and often dehumanize, the individuals depicted. We are left, therefore, not only with a physical archive of images but also with its baggage and a serious question – how do we now photograph in parts of the world where the image has been used as a tool of “othering?” While living in Central Java for ten months in 2012 and 2013, the speaker began wrestling with this question and continue to do so. The body of work that came out of that time – Men You Might Know – represents his engagement of that question during those months.
    Every day, he would set out from his home and walk the streets of Salatiga, a medium sized town in Central Java, which is among the most densely populated places in the world. He would meet countless people on his walks – tire repairmen, students, minibus drivers, small business owners – the individuals who define and bring life to the streets of towns across Indonesia, where lines between private and public spaces are often blurred. Men would inevitably inquire as to where he was from, where he was going, and where he lived in town. After chatting for a while, he would go on his way. Eventually, in an effort to capture the openness and curiosity of the culture that he lived in, he began to photograph these men. These portraits offer perspective on what it is like to live in a culture that values personal interaction above suspicion and distance. As students at an alternative high school where he volunteered opined, Indonesians are curious about everyone they come into contact with, observing that people will strike up intimate, wide-ranging conversations with perfect strangers at the slightest provocation. The perspective offered in these portraits is one that is often lost in mainstream media representations of men in developing countries, who are frequently represented as threats, and is particularly important in a policy climate that continues to essentialize “the other.”
    This summer he is traveling back to Salatiga to return these images to the people whom he photographed and to present the work to the larger community. Working with a historical society, Kampoeng Salatiga, he will show the collection of 170 portraits publicly at the Notohamidjojo Museum, giving the community a chance to respond to the work. As an organization, Kampoeng Salatiga is committed to exploring the history of the town from a variety of disciplines, and he see partnering with them as an ideal way to share this work with a broad, local audience. He will also give Kampoeng Salatiga a full set of the images for their archive to use as they construct new histories of the town. For him, it is crucial that this work is situated within a local context, fracturing the long-standing practice of the images of the Global South being created for consumption in the Global North.

    Speaker:
    Garrett O. Hansen graduated from Grinnell College, where he studied economics and political science. He completed his MFA in photography at Indiana University and has taught at several universities in the United States and in Asia; he is now an Assistant Professor of Photography at the University of Kentucky. Garrett’s work deals primarily with issues of place and how we grow to know and understand the world around us. Garrett has had numerous solo and group exhibitions in the United States and Japan, this show is his first in Indonesia. Garrett lived in Salatiga in 2012 and 2013 and loved it.

    Time:
    This presentation will be held on Monday, July 7th, 2014 at 4 pm – 5.30 pm at IVAA (Indonesian Visual Art Archive), Jl. Ireda, Gang Hiperkes, Dipowinatan 188 A/B RT.14, RW.03, Keparakan, Mergangsang, Yogyakarta.

    Further Information : Faishol Adib
    Email: faisholadib@gmail.com Mobile: 0815 799 2089
    AIFIS Yogyakarta Office
    Pusat Studi Sosial Asia Tenggara (PSSAT), Gedung PAU UGM Sayap Timur Lantai 1
    Jl. Teknika Utara, Barek, Yogyakarta 55281

    Map to IVAA (Indonesian Visual Art Archive)
  • “Refleksi Filosofis dan Teoritik Politik Nasional: Perspektif Ilmu politik dan Pesantren” - July 10, 2014,

    Latar Belakang
    Dinamika politik Indonesia, dalam sudut tertentu, diwarnai oleh dua hal. Pertama, liberalisasi politik yang diikuti oleh kegagalan konsolidasi demokrasi pascareformasi 1998. Kegagalan ini ditinjau dari absennya beberapa ciri fundamentalnya: belum terwujudnya hal-hak ekonomi, sosial, dan kultural rakyat; belum kuatnya birokrasi yang berorientasi public sevices; dan kualitas partisipasi dalam kebijakan yang lemah. Kedua, penggunaan isu agama dalam pilpres. Kedua kandidasi pilpres terlibat dalam perebutan, negosiasi, dan pertarungan untuk merebut hegemoni kultural makna Islam. Pendek kata, keduanya menjadikan Islam menjadi salah satu instrument untuk menarik konstituen. Hal ini pada dasarnya juga bukan tanpa akar, relasi Islam dan politik bahkan memiliki akar sejarah panjang dalam tradisi politik Nusantara. Kajian-kajian akademik ilmu politik juga telah menjadikan Islam sebagai salah satu perspektif dan variable penting untuk memahami dinamika politik Nusantara.
    Persoalannya adalah, dialektika relasi Islam dan politik di Indonesia seringkali menunjukkan dinamika yang kontraproduktif. Salah satu contohnya adalah menggunakan Islam sebagai senjata untuk black campaign atau menumbuhkan kembali politik sectarian yang tidak rasional. Contoh yang lebih serius adalah munculnya kembali, terutama sejak Orba tumbang, diskursus Negara Islam yang formalistic. Kemunculan diskursus ini bukan hanya di tataran pemikiran, namun juga diikuti oleh pengorganisasian tingkat basis dan pelembagaan organisasinya. Organisasi pengusung ideology Negara-Islam kini semakin banyak dengan program yang sistematik, baik dalam bentuk partai maupun organisasi non-partai. Jika hal ini berlarut, maka diskursus Islam dan Politik akan kembali ke tema klasik: Relasi Islam dan Negara, yang dalam kajian telah menghasilkan tiga pandangan utama. Ketiga pandangan utama tersebut saat ini tentu akan kesulitan menjawab problem-problem politik kontemporer, yang melampaui problem Islam-Negara.
    Pada sisi yang lain, relasi Islam dan politik dalam sejarah Nusantara sebenarnya juga bukan sesederhana soal relasi Islam dan Negara. Dalam khasanah pemikiran Islam, pesantren memiliki tradisi pemikiran politik (fiqh siyasah) yang cukup kaya dan prinsipil. Namun demikian, fiqh siyasah ini mengalami kemandegan cukup lama. Fiqh siyasah berhenti pada fisafat politik yang membicarakan soal hakekat kepemimpinan, kekuasaan, dan etika politik. Fiqh siyasah, oleh karena beragam faktor sejarah, belum dikembangkan dalam ranah teori politik; kelembagaan politik; serta teori-teori lain dalam menjawab problem identitas, pluralitas, multikulturalisme; konflik, struktur ketidakadian global, ketegangan otonomi-kesatuan, politik lingkungan, politik anggaran, politik pendidikan, hingga teori-teori keadilan.
    Dengan asumsi bahwa (1) pembangunan politik nasional menuju demokrasi subtansial tidak dapat dilepaskan dengan entitas yang disebut politik Islam dengan beragam varian maknanya, dan (2) pesantren memiliki keterkaitan dalam dua hal, yakni (a) aktivisme dalam “dunia politik” bahkan sejak sebelum Indonesia terbentuk, serta (b) tradisi pemikiran politik yang relatif mendalam dan komprehensif, maka, menjadi penting untuk digali:
    1. Berbagai isu-isu strategis politik yang membutuhkan jawaban mendalam dan komprehensif;
    2. Mendalami Kontribusi khasanah pemikiran politik pesantren;
    3. Peta masa depan pemikiran dan gerakan politik Islam di Indonesia.

    Tujuan
    A. Melakukan refleksi kritis terhadap perkembangan pemikiran dan praksis politik nasional kontemporer
    B. Melakukan kajian komparatif dua tradisi epistemology politik Indonesia: pemikiran filsafat politik Barat dan pemikiran filsafat politik Islam
    C. Merumuskan kontribusi teoretik-konseptual untuk mendorong perbaikan dalam pembangunan politik nasional (fiqh siyasah) menuju politik yang beradab, demokratis, adil, seimbang antara aspirasi masyarakat-negara-masyarakat ekonomi.

    Output
    Diskusi berseri ini diharapkan menghasilkan Makalah atau Prosiding yang nantinya akan dijadikan materi utama Jurnal Mlangi Edisi ke-5.

    Tema
    Tema Diskusi Serial Pesantren dan Filsafat Politik #1 adalah Refleksi Filosofis dan Teoritik Politik Nasional: Perspektif Ilmu Politik dan Pesantren. Sesi ini akan melakukan refleksi kritis terhadap fenomena politik nasional dalam perspektif ilmu politik dan pemikiran pesantren. Karena refleksi, diharapkan mendalam dan menjangkau akar-akar persoalan. Dengan refleksi ini diharapkan menjadi jelas peta persoalan politik Indonesia dalam kerangka konseptual. Kejelasan dan kedalaman ini diharapkan mengimbangi berbagai informasi dan analisis day-to-day politics di media massa yang seringkali saling bertentangan, dangkal, dan lemah secara akademik. Refleksi ini akan mencoba melacar akar-akar persoalan tersebut di ranah filsafat, nilai, teori, kelembagaan, maupun kultur politik di Indonesia.

    Tempat dan waktu
    Kegiatan Diskusi Serial Pesantren dan Filsafat Politik #1 ini akan dilaksanakan pada:
    Hari, tanggal : Kamis, 17 Juli 2014
    Waktu : 20.30 – 22.30 WIB
    Tempat : Sekretariat Jurnal MLANGI
    PP Aswaja Nusantara, Mlangi Nogotirto GMP Sleman Yogyakarta
    Phone: 0274-625843 / 0815 6866 002

    Pembicara
    Pembicara kegiatan tersebut adalah:
    1. Abdul Ghaffar Karim, M.A. (Dosen Fisipol UGM)
    2. Achmad Munjid, Ph.D. (Alumnus Temple University)
    Moderator: Mustaghfirah Rahayu, M.A. (Alumnus Florida International University)

    Informasi lanjut
    Faishol Adib, M.A
    Email: faisholadib@gmail.com Mobile: 0815 799 2089
    AIFIS Yogyakarta Office
    Pusat Studi Sosial Asia Tenggara (PSSAT), Gedung PAU UGM Sayap Timur Lantai 1
    Jl. Teknika Utara, Barek, Yogyakarta 55281

    Map to Sekretariat Jurnal MLANGI
  • Why are Impal Marriages so Rare in Karo Batak Society? A Case Study in Social Change, Dr. Geoff Kushnick - July 11, 2014,

    The Karo, an agricultural group from the highlands of North Sumatra, have a stated preference for matrilateral cross-cousin (referred to as impal) marriage, but rarely do so in practice. Singarimbun’s ethnographic study revealed that less than 5% of marriages were between impal. My previous research with parish records from Indonesia shows that the rate of impal marriage among Karo went from around 12% in 1948 to 4% in 2010. My current research aims to assess the relative contribution of a handful of factors—status quo, demography, religion, descent and alliance, and negative imprinting—in driving down the rate of impal marriage. The project comprises two related studies. In the first, I building a sample of around 100 impal couples by visiting as many Karo villages as necessary. I am interviewing them about the demographic, economic, and social conditions of their marriage, including whether the marriage was their choice or arranged by their families. I will ask a similar set of questions to a matching set of non-impal couples for comparison. In the second study, I am using a factorial vignette experiment to assess changing attitudes about impal marriage. The project is at once a case study in social change, and an exercise in “salvage” ethnography, as the opportunity to meet and interview those married to their impal may pass with the passing of a generation.
    Study funded by the Fulbright Scholars Program and the American Institute for Indonesian Studies.

    Dr. Geoff Kushnick

    Received a PhD in Biocultural Anthropology from the University of Washington, Seattle, in 2006, and served on the faculty there until this year. In July 2014, He is start a position as Lecturer in Biological Anthropology (Human Behavioural Ecology) in the School of Archaeology and Anthropology at the Australian National University in Canberra. His research interests are the behavioral ecology of human reproductive strategies; the evolution of social norms and institutions; and, the peoples and cultures of Southeast Asia, particularly Indonesia. He is currently a Fulbright Scholar, conducting research on the decline of cousin marriage among the Karo people of North Sumatra. His publications have appeared in PLOS ONE, Current Anthropology, Human Nature, Evolution and Human Behavior, Human Biology, American Journal of Human Biology, Journal of Biosocial Science, and Molecular Biology and Evolution. For more information, please visit http://about.me/geokush.

    Further information :
    pkbb@atmajaya.ac.id

    Map to Ruang Multimedia Fakultas Tehnik
  • Diskusi Serial Pesantren dan Filsafat Politik #2 Rekonstruksi Peran Pesantren dalam Pembangunan Politik Indonesia: Perspektif Pesantren dan Kampus - July 18, 2014,

    Tema Diskusi Serial Pesantren dan Filsafat Politik #2 adalah Rekonstruksi Peran Pesantren dalam Pembangunan Politik Indonesia: Perspektif Pesantren dan Kampus. Pesantren dan politik, dalam sejarah keindonesiaan merupakan dua entitas yang tak terpisahkan. Meskipun dalam ranah teori terdapat banyak ragam konseptualisasi, dari ideal yang memisahkan, mensenyawakan, hingga merumuskan jalinan kreatif keduanya, relasi erat keduanya tak terbantahkan secara empiris. Keduanya terlibat dalam kontestasi dan negosiasi makna, symbol, dan kepentingan. Jalinan ini pada dasarnya inheren, dengan sendirinya, dan tidak mungkin dipisahkan. Pesantren, baik dari sudut doktrin maupun sebagai lembaga sosial, tidak mungkin lepas dari politik.
    Karena itu, depolitisasi pesantren, atau pemisahan pesantren dengan politik, meminjam terma Mbah KH Wahab Chasbulah, seperti memisahkan gula dari rasa manisnya. Sejarahlah yang membuktikan hal tersebut. Satu-satunya argumen yang melemahkan perspektif tersebut hanyalah teori positivistik yang menekankan pemaknaan politik identik dengan negara. Pengertian ini sekarang telah runtuh, karena kaburnya batas-batas antara negara dan non-negara. Apalagi jika kita memaknai kekuasaan atau politik dalam tradisi foucauldian, yang melihat politik melebar-meluas, menyebar dalam setiap relasi.
    Kenyataan ini pertama-tama harus kita sadari ketika kita hendak membincangkan kontribusi pesantren terhadap pembangunan politik Indonesia. Terdapat bangunan psikologis yang sesungguhnya merupakan dampak dari depolitisasi dan deidologisasi kolonial dan Orba yang menciptakan jarak antara masyarakat pesantren dan politik. Politik adalah dunia kotor, hal dunyawiyyah, perebutan kuasa, sedangkan pesantren adalah dunia pendidikan, dunia suci, hal ukhrowiyyah. Tanpa membongkar belenggu ini niscaya akan menciptakan relasi ambigu antara pesantren dan politik. Di satu sisi, seolah-olah menjaga jarak dengan politik, di sisi lain, berkepentingan dengan sumber daya politik. Dalam jangka panjang, kontruksi ini berakhir tragis, hancurnya kritisisime pesantren, dan sebagai akibat ikutannya, pesantren seringkali dijadikan komoditas politik serta instrument penarik suara akar rumput.
    Pembongkaran ini menjadi prasyarat dalam menata kembali relasi pesantren dan politik. Tanpa melepaskan beban ini, pesantren akan kesulitan membaca kembali posisi sosialnya. Reposisi social ini akan menentukan titik-titik artikulasi pesantren dalam politik. Untuk membaca posisi social ini, paling tidak dibutuhkan tiga perspektif. Pertama, perspektif sejarah untuk merebut “makna sejarah.” Kedua, perspektif bacaan terhadap real politik global dan nasional beserta ragam ideology di belakangnya. Ketiga, pemahaman subyektif komunitas pesantren terhadap dirinya. Ketiga hal tersebut akan membawa rumusan kontribusi pesantren dalam pembangunan politik Indonesia yang subtansial dan beretika.

    Kegiatan Diskusi Serial Pesantren dan Filsafat Politik #2 ini akan dilaksanakan pada:
    Hari, tanggal : Jumat, 18 Juli 2014
    Waktu : 20.30 – 22.30 WIB
    Tempat : Pondok Pesantren Kali Opak, Klenggotan, Srimulyo, Piyungan, Bantul

    Pembicara kegiatan tersebut adalah:
    1. Drs. Agus Sunyoto, M.Pd. (Dosen Universitas Brawijaya, Malang)
    2. M Jadul Maula (Pimpinan Pondok Pesantren Kali Opak)
    3. Mustaghfirah Rahayu, M.A. (Alumnus Florida International University)

    Informasi lanjut :
    Faishol Adib, M.A
    Email: faisholadib@gmail.com Mobile: 0815 799 2089
    AIFIS Yogyakarta Office
    Pusat Studi Sosial Asia Tenggara (PSSAT), Gedung PAU UGM Sayap Timur Lantai 1
    Jl. Teknika Utara, Barek, Yogyakarta 55281

    Map to Pondok Pesantren Kali Opak
  • Public Lecture : "Social Protection in Indonesia: Evaluating the Health Insurance for the Poor Program." - July 21, 2014,

    In this presentation, the speaker will discuss the response of the Indonesian government to the financial crisis of 1997 by initiating a number of new social safety net programs that included health subsidies directly targeting the needy. The program involved the distribution of health cards to low-income households to provide access to government-subsidized health care at community health centers and public hospitals, and in 2005 it was replaced by a ‘Health Insurance for the Poor’ (Askeskin) program that targeted 60 million people. Using longitudinal research data involving 7000 Indonesian households, he evaluates the effects of this health insurance program. In the talk, he will address some of the following questions: How effectively has this program been targeted to those who need it? Has the health-seeking behavior of the program's participants changed? And finally, has the program improved health outcomes?

    Ranjan Shrestha is an assistant professor in the Department of Economics at the University of Montana. He completed his PhD in Economics from the Ohio State University in 2007. He teaches principles and intermediate macroeconomics, health economics, labor economics, and advanced development economics. His research areas are in the fields of development, labor and demographic, and health economics with a focus on evaluating health policies in developing countries. He is currently working on evaluating social protection programs in Indonesia using the Indonesian Family Life Survey. He has held visiting positions at the Australian Demographic and Social Research Institute (ADSRI) at the Australian National University and at the Center for Population and Policy Studies (CPPS) at Gadjah Mada University.

    This Public Lecture will be held on:
    Day : Monday, 21 July 2014
    Time : 10.00 – 12.00 WIB
    Place : Ruang Rapat Yayasan, Gedung Yustinus Lantai 13,Unika Atmajaya, Kampus Semanggi, Jl.Jenderal Sudirman 51 - Jakarta

    Further information to :
    Rosa/Clara (pkbb@atmajaya.ac.id)
    Phone : 021 571 9560

    Map to Ruang Rapat Yayasan, Gedung Yustinus Lantai 13

Five Upcoming Events:

  • Diskusi Panel “Peranan Perempuan dalam Pembangunan Masyarakat” - August 18, 2014,

    Latar Belakang
    Selama ini terdapat anggapan bahwa kualitas perempuan dalam pembangunan masih sangat rendah, yang menyebabkan peran kaum perempuan tertinggal dalam segala hal. Pemerintah seharusnya lebih menerapkan prinsip-prinsip yang dianut Konvensi Wanita yaitu prinsip persamaan substantif, non diskriminasi dan prinsip kewajiban negara dengan mengharmonisasikan ke dalam hukum nasional sesuai dengan azas kesetaraan dan keadilan gender. Sehingga untuk mengatasinya diperlukan upaya dan strategi mengintegrasikan isu kesetaraan gender ke dalam arus pembangunan dengan cara menempatkan perempuan sebagai subjek pembangunan dan menghilangkan faktor kendala yang dihadapi perempuan dalam pembangunan.
    Kesetaraan dan keadilan gender sangat kurang disosialisasikan sehingga pemanfaatan bagi pemberdayaan perempuan belum dapat dilaksanakan secara optimal dalam pembangunan berkesinambungan. Perubahan sosial menuju kemitrasejajaran gender diawali dengan proses industrialisasi dan kemajuan teknologi informasi dengan fenomena meningkatnya jumlah perempuan yang bekerja di luar rumah.
    Melalui pengarahan pemerintah diharapkan perempuan akan lebih banyak berpartisipasi dalam pembangunan dengan tujuan utama memberdayakan perempuan tidak saja untuk masa kini tetapi juga untuk masa mendatang agar dapat berperan serta aktif dan mengefektifkan dalam pembangunan yang berkelanjutan. Akses dan kesempatan kaum perempuan seringkali mengalami hambatan, juga partisipasi dan kontrol, ketiga hal ini harus setara dan adil untuk diperjuangkan. Karena kaum perempuan memiliki beberapa peran diantaranya reproduktif, produktif, dan sosial jika semua itu terpenuhi maka peran kaum perempuan dalam pembangunan di Indonesia di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dapat dilaksanakan untuk meningkatkan kualitas hidup serta kesejahteraan kehidupan keluarga dan masyarakat.
    Women In Development Approach (WID) yang diperkenalkan oleh United States Agency for International Development (USAID) berpendapat bahwa perempuan merupakan sumber daya yang belum dimanfaatkan secara optimal untuk memberikan sumbangan ekonomi dalam pembangunan. Ini berarti bahwa perempuan dan pembangunan telah menjadi sorotan dunia internasional.
    Konsep pembangunan kemampuan peranan perempuan yang dipergunakan berkembang menjadi pemberdayaan perempuan yang berarti meningkatkan kualitas dan peran perempuan pada semua aspek kehidupan baik secara langsung atau tidak langsung melalui penciptaan situasi-situasi yang kondusif sebagai motivator dan akselerasi proses pembangunan. Pemberdayaan kaum perempuan sebagai suatu proses kesadaran dan pembentukan kapasitas (capacity building) terhadap partisipasi yang lebih besar, kekuasaan dan pengawasan dalam pembuatan keputusan dan tindakan transformasi agar menghasilkan persamaan derajat yang lebih besar antara perempuan dan kaum laki-laki.
    Pembicara:
    1. Nihayatul Wafiroh M.A. (Anggota DPR RI 2014-2019, PKB)
    2. Rebakah Daro Minarchek (Ph.D. Candidate, Cornell University)
    3. Dr. Nani Nurrachman (Fakultas Psikologi, Unika Atma Jaya)
    Moderator (dalam konfirmasi): Dr. Eunike Sri Tyas Suci (Fakultas Psikologi, Unika Atma Jaya)
    Tempat: Aula BKS, Gedung BKS Lt. 1
    Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya
    Jl. Jenderal Sudirman 51, Jakarta
    Waktu: Senin, 18 Agustus 2014, pukul 09.00–11.00 WIB

    Informasi dan Registrasi:
    Rosa/Clara
    Email: pkbb@atmajaya.ac.id Telepon: 021.571-9560 SMS/WA: 0812.8650.7993
    Pusat Kajian Bahasa dan Budaya
    Unika Atma Jaya, Kampus Semanggi, Jl. Jenderal Sudirman 51, Jakarta

    Map to Aula BKS, Gedung BKS Lt. 1 , Universitas Katolik Indonesia A
Bookmark and Share